Museum Kata Hirata

Museum Kata didirikan pada 2010 oleh novelis Andrea Hirata. Ia juga berperan sebagai kurator. Tembok warna-warni yang di museum ini seolah mengingatkan kembali buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea.
Di museum ini, terdapat lebih dari 200 literatur dari berbagai genre, seperti literatur musik, literatur film, literatur anak, literatur seni, hingga literatur arsitektur. Meski banyak memasukkan karya penulis luar, kearifan lokal tidak luput dihadirkan di museum ini.
Misalnya, ada sebuah ruangan di museum ini yang menyajikan informasi mengenai geografi Belitung Timur, lengkap dengan contoh bebatuan asli di tempat ini, yaitu batu satam. Di ruangan lainnya, terdapat kumpulan kata-kata asli Belitung kini berada di ambang kepunahan.
Ini merupakan museum kata yang pertama di Indonesia, dan mungkin, satu-satunya di negeri ini. “Konsep museum kata masih asing di Indonesia. Sementara di Amerika ada lebih dari 100 museum kata,” kata Andrea saat ditemui di Museum Kata, Gantung, Belitung Timur, beberapa waktu lalu.
Andrea terinspirasi The Mark Twain Boyhood Home and Museum di Hannibal, Missouri, Amerika Serikat. Pada 2010 lalu, ia mendapatkan beasiswa untuk belajar sastra di University of Iowa selama tujuh bulan.
“Ada salah satu programnya kami disuruh ke Hannibal dan kemudian mengunjungi museum kata di sana. Dari situlah, inspirasi museum kata datang kepada saya,” kata pemenang pertama kategori general fiction dalam New York Book Festival 2013.
Museum ini juga sebagai pelunasan janji Andrea kepada publik. Di kala profit penjualan buku Laskar Pelangi begitu melambung, Andrea pernah berjanji bahwa ia akan mengalokasikan royalti untuk membuat sesuatu yang berbau pendidikan.”Makanya, museum ini tidak memungut biaya. Siapapun gratis berkunjung ke museum ini,” kata Andrea sambil menunjukkan sebagian karyanya yang dipajang di museum ini.
Padahal, kata Andrea, biaya operasional museum ini bisa mencapai Rp 10 juta per bulan. Sementara, pembangunan museum ini hampir mencapai Rp 1 miliar. Tanpa bantuan pemerintah, museum ini sangat bergantung kepada pemasukan Andrea dari hasil penjualan novel-novelnya.
“Museum ini dibangun dari dana yang berasal dari royalti yang saya dapatkan. Namun, properti dan bangunan ini bukan milik saya. Yang menarik, bagian depan bangunan ini dulunya merupakan rumah yang telah berusia 200 tahun,” kata Andrea menjelaskan.
Atas nama idealisme, Andrea memilih tidak membangun museum ini di kota besar, melainkan di kampung halamannya. Selain terasa lebih berarti, Andrea juga berniat memberdayakan orang lokal di daerahnya. Misalnya, ia mempekerjakan enam orang lokal untuk operasional museum sehari-hari.
Di bagian tengah museum yang luasnya sekitar 100×60 meter, ada kedai kopi kecil yang dinamakan “Warkop Kupi Kuli”. Warga lokal yang menjalankan usaha warkop tersebut. “Ini kopi terenak di dunia. Harus coba,” kata Andrea.
Kepeduliannya akan dunia pendidikan juga membuatnya kini banyak menghabiskan waktunya di kampung halaman. Ia kini aktif mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak kurang mampu Belitung Timur. Halaman belakang museum disulap menjadi “sekolah”.
“Sudah ada 40 siswa, dan sudah lima tahun mereka belajar dengan saya. Rata-rata dari mereka adalah anak penambang timah,” kata Andrea.
Bagi Andrea, kurangnya akses pendidikan merupakan salah satu arti kemiskinan bagi warga Belitung Timur. “Sebanyak 85 persen lulusan SMA di Belitung Timur tidak melanjutkan sekolah,” katanya.
Lebih lanjut, Andrea mengatakan hanya 15 persen lulusan SMA yang merantau untuk kuliah di Pulau Jawa, namun yang mendapatkan pendidikan bermutu jumlahnya kurang dari sepuluh orang.
“Banyak yang bilang saya seharusnya tinggal di Jakarta saja, bahkan di New York, untuk meniti karier menulis. Tetapi saya katakan saya tidak akan meninggalkan anak-anak ini. Saya tidak akan tinggalkan mereka, seperti dulu ketika PT Timah meninggalkan rakyat Belitung begitu saja,” katanya.
Ia pun percaya bahwa mimpi dan inspirasi merupakan modal utama agar anak miskin Belitung bisa mengubah nasibnya. Namun, perlu diselarasakan dengan pendidikan. Pendidikan, kata Andrea, adalah jalan keluar dari kemiskinan.
“Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” – Andrea Hirata

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *